Pukul 23.45, saat menyetel radio, saya kesasar ke gelombang sebuah radio swasta. Sebuah lagu yang populer di tahun 1970-an berkumandang. Lagu sederhana yang dibawakan satu kelompok bersaudara. Bercerita tentang hati yang sepi. Aneh, tiba-tiba saja lagu itu memindahkan pikiran saya ke masa silam.
Bermunculan sosok-sosok teman-teman saya, berseragam SMA tengah asyik melantunkan lagu yang sama di aula sekolah, saat kami mementaskan drama pendek. Itu lagu ilustrasi untuk repertoar kamar kamar lain yang ditulis oleh seorang teman yang kemudian menjadi pemimpin redaksi beberapa majalah, dan kini menjadi penulis novel dan budayawan ternama.
Pemain gitarnya kini entah kemana, seorang penyanyinya saya dengar sudah meninggal dunia, pemeran utama wanitanya menjadi dokter dan mantan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Seorang lagi bertemu saya 12 tahun berselang menjajakan ensiklopedia setelah sebelumnya menjadi pelatih aero-modelling. Seorang lagi, sedih saya mendengarnya, menderita gangguan jiwa.
BETAPA, WAKTU ITU, SELAGI USIA MASIH MUDA, KEHIDUPAN SUNGGUH SUATU MISTERI. KAMI MENJALANINYA DENGAN NALURI SEORANG PENGELANA, BERJALAN MENURUTI NASIB DENGAN PETA TAKDIR TAK TERDUGA. SEBAGIAN BISA MEMAKNAI DAN MENGISI HIDUPNYA DENGAN KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN, SEBAGIAN LAGI HARUS BERJUANG KERAS DAN MENGANGGAP HIDUP TERAMAT KEJAM, SEBAGIAN LAINNYA TENGGELAM DALAM KEHAMPAAN.
Salahkah mereka yang gagal melangkah? Kehidupan tak mengambil apapun dari kita. Seberapa banyak yang kita beri pada kehidupan, akan berbuah kebaikan dan kebajikan. Apa pun yang kita terima dan jadi siapapun kita saat ini, hidup tetap harus disyukuri, karena kita terus berkesempatan memberi.
Kenangan memberi energi baru, setidaknya dalam memandang kehidupan yang tersisa. Tunas-tunas kebijakan baru, bermekaran. Seyogianya hidup memang hanya â€numpang minum†menuju kehidupan abadi. Malam hanyut menjelang pagi. Di tepiannya saya hening membatu. Gara-gara sepotong lagu.
Sumber : INTISARI
Bermunculan sosok-sosok teman-teman saya, berseragam SMA tengah asyik melantunkan lagu yang sama di aula sekolah, saat kami mementaskan drama pendek. Itu lagu ilustrasi untuk repertoar kamar kamar lain yang ditulis oleh seorang teman yang kemudian menjadi pemimpin redaksi beberapa majalah, dan kini menjadi penulis novel dan budayawan ternama.
Pemain gitarnya kini entah kemana, seorang penyanyinya saya dengar sudah meninggal dunia, pemeran utama wanitanya menjadi dokter dan mantan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Seorang lagi bertemu saya 12 tahun berselang menjajakan ensiklopedia setelah sebelumnya menjadi pelatih aero-modelling. Seorang lagi, sedih saya mendengarnya, menderita gangguan jiwa.
BETAPA, WAKTU ITU, SELAGI USIA MASIH MUDA, KEHIDUPAN SUNGGUH SUATU MISTERI. KAMI MENJALANINYA DENGAN NALURI SEORANG PENGELANA, BERJALAN MENURUTI NASIB DENGAN PETA TAKDIR TAK TERDUGA. SEBAGIAN BISA MEMAKNAI DAN MENGISI HIDUPNYA DENGAN KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN, SEBAGIAN LAGI HARUS BERJUANG KERAS DAN MENGANGGAP HIDUP TERAMAT KEJAM, SEBAGIAN LAINNYA TENGGELAM DALAM KEHAMPAAN.
Salahkah mereka yang gagal melangkah? Kehidupan tak mengambil apapun dari kita. Seberapa banyak yang kita beri pada kehidupan, akan berbuah kebaikan dan kebajikan. Apa pun yang kita terima dan jadi siapapun kita saat ini, hidup tetap harus disyukuri, karena kita terus berkesempatan memberi.
Kenangan memberi energi baru, setidaknya dalam memandang kehidupan yang tersisa. Tunas-tunas kebijakan baru, bermekaran. Seyogianya hidup memang hanya â€numpang minum†menuju kehidupan abadi. Malam hanyut menjelang pagi. Di tepiannya saya hening membatu. Gara-gara sepotong lagu.
Sumber : INTISARI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar