Jakarta, 1963. Di jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat dibuka resto minang Lapeh Salero (mungkin yang pertama di Jakarta). Karena tinggal di kompleks tentara di sebelahnya, maka saya sering melihat selebriti masuk keluar resto itu.
Dapur resto itu sedemikian sibuk, ada yang mengulek sambal, memotong sayuran, wajan besar berkepul-kepul, dan semula awaknya bicara bahasa Minang. Tak satu kata pun saya mengerti. Juru masak menuangkan kuah rendang ke sebungkus nasi, lalu diberikan kepada dua orang anak sebaya saya, yang membayar untuk itu. Keduanya saya kenali sebagai penjaja koran di bioskop Cathay yang sekarang jadi supermarket.
Mereka berdua bergegas ke pojokan, berjongkok. Makan nasi sebungkus berdua. Menjilati jari berlumur rendang. Nikmat sekali. Saya teringat pakar psikologi humanis, Abraham Maslow, tentang puncak kebahagiaan. Apakah kedua anak itu tengah mencapai ”puncak”? Nasi kuah rendang yang dibeli dengan keringat sendiri, dengan rasa bumbu rempah menyengat lidah telah memberi mereka pengalaman kejut. Walau hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi kuah, mereka syukuri rejeki yang diperoleh hari ini, dengan cara ikhlas menyantapnya.
Sampai saat ini, setiap kali makan saya terus dibayang-bayangi sosok-sosok kecil 45 tahun lalu itu. Rasa setiap suap coba saya resapi, seperti mereka dulu. Aneh, setitik rasa bahagia memuai dalam hati. Apakah saya juga sedang mengalami ”puncak”?
Terkadang saya ingin bertemu dengan kedua anak itu lagi. Sekadar melihat, masihkah nasi kuah rendang menjadi ”puncak” bagi mereka? Mungkin, ”puncak” itu terus bergerak, mengikuti status sosial atau gaya hidup. Namun, terkadang ada hal yang bagi orang lain sepele, tapi ternyata bisa membuat seseorang merasa bahagia. Misalnya, hanya makan nasi berlauk tahu goreng plus cabe iris campur kecap dan ulekan bawang putih saja sudah cukup mengantar ia ke ”puncak”. Seperti saya.
Sumber : INTISARI
Dapur resto itu sedemikian sibuk, ada yang mengulek sambal, memotong sayuran, wajan besar berkepul-kepul, dan semula awaknya bicara bahasa Minang. Tak satu kata pun saya mengerti. Juru masak menuangkan kuah rendang ke sebungkus nasi, lalu diberikan kepada dua orang anak sebaya saya, yang membayar untuk itu. Keduanya saya kenali sebagai penjaja koran di bioskop Cathay yang sekarang jadi supermarket.
Mereka berdua bergegas ke pojokan, berjongkok. Makan nasi sebungkus berdua. Menjilati jari berlumur rendang. Nikmat sekali. Saya teringat pakar psikologi humanis, Abraham Maslow, tentang puncak kebahagiaan. Apakah kedua anak itu tengah mencapai ”puncak”? Nasi kuah rendang yang dibeli dengan keringat sendiri, dengan rasa bumbu rempah menyengat lidah telah memberi mereka pengalaman kejut. Walau hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi kuah, mereka syukuri rejeki yang diperoleh hari ini, dengan cara ikhlas menyantapnya.
Sampai saat ini, setiap kali makan saya terus dibayang-bayangi sosok-sosok kecil 45 tahun lalu itu. Rasa setiap suap coba saya resapi, seperti mereka dulu. Aneh, setitik rasa bahagia memuai dalam hati. Apakah saya juga sedang mengalami ”puncak”?
Terkadang saya ingin bertemu dengan kedua anak itu lagi. Sekadar melihat, masihkah nasi kuah rendang menjadi ”puncak” bagi mereka? Mungkin, ”puncak” itu terus bergerak, mengikuti status sosial atau gaya hidup. Namun, terkadang ada hal yang bagi orang lain sepele, tapi ternyata bisa membuat seseorang merasa bahagia. Misalnya, hanya makan nasi berlauk tahu goreng plus cabe iris campur kecap dan ulekan bawang putih saja sudah cukup mengantar ia ke ”puncak”. Seperti saya.
Sumber : INTISARI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar