Senin, 02 Agustus 2010

AIR MATA & LILIN

Thomas Merton (53) adalah seorang rahib biara trapis di Kentucky, AS. Ia dikenal sebagai pengarang spiritual, penyair, pekerja sosial yang berpengaruh serta pendukung dialog antar- agama di dunia. Sayang, karirnya terhenti di usia paruh baya ketika Desember 1968 sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Kehendak Allah. Itulah yang sering tak bisa dimengerti manusia. Persis seperti yang pernah diucapkannya ketika masih hidup ….of all the things and all the happenings that proclaim God’s will to the world, only very few are capable of being interpreted by men. And of this few, fewer stil find a capable interpreter..

Pengalaman Anton menunjukkan hal yang sama. Seperti orangtua yang pada umumnya amat mencintai anak, Anton begitu menderita ketika Susan, putri semata wayangnya terserang Leukimia. Segala macam upaya media maupun alternatif telah dilakukan. Toh, sang buah hati tak tertolong. Allah menghendaki bocah cantik ini kembali ke pangkuanNya. Tinggallah Anton dan istri tersedu sedih. Berbulan-bulan keluarga ini dilanda kepedihan. Tawa dan tangisan Susan yang dulu meramaikan suasana, tak terdengar lagi.

Berbeda dengans ang istri yang beberapa tahun kemudian bisa menerima kenyataan, tak demikian halnya Anton. Ia seakan “menggugat” Sang Pencipta atas kenyataan yang dihadapi. Ia menjadi sangat pendiam. Dan tertutup. Tak mau lagi bergaul dengan teman dan tetangga. Setiap hari hanya mengurung diri di rumah ogah bersosialisasi dengan masyarakat. Selain tak banyak omong, Anton sekarang mudah marah dan tersinggung.

Suatu malam Anton bermimpi, seakan berada di surga. Ia menyaksikan parade malaikat kecil berjajar dalam barisan di kanan dan kiri sebuah gapura berbentuk mahkota yang amat besar. Masing-masing malaikat berbaju putih tersebut memegang sebuah lilin. Namun diantara deretan lilin yang bersinar itu ada sebuah lilin yang tidak menyala. Betapa terkejutnya ketika melihat dari dekat ternyata malaikat kecil pemegang lilin yang tidak menyala itu adalah Susan anaknya. Segera ia menghambur menggendong Susan. “Sayang, mengapa lilinmu tidak menyala nak?” Yang ditanya menjawab lirih, “Papa, sebenarnya mereka berkali-kali menyalakan lilinku. Tapi air mata Papa selalu menyiram lilin ini hingga padam.”

Tergagap Anton bangun dari tidurnya. Mimpi itu segera mengubah dirinya. Sungguh. Ketika menuturkan kisah hidupnya beberapa hari lalu, Anton sudah kembali seperti saat saya kenal sebelumnya. Seorang pekerja yang periang, ramah kepada siapapun dan suka menolong. Ia sadar tak mau lagi menghamburkan air mata sia-sia yang hanya akan memadamkan lilin buah hatinya.

Sumber : INTISARI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar