Selasa, 27 Juli 2010

TAHUKAH ANDA....??

....Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang.

Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita. Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

....Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut.

Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

....Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita.

Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.


BERILAH CINTA TANPA MEMINTA BALASAN DAN KITA AKAN MENEMUKAN CINTA YANG JAUH LEBIH INDAH.

Sumber : INTISARI

TOPENG BERTUAH

SEBAGAI MANUSIA NORMAL SESUNGGUHNYA DJOKO KEPINGIN HIDUP BAHAGIA. NAMUN PERILAKUNYA YANG KASAR DAN PEMARAH TERKADANG JUSTRU MERUGIKAN CITRA DIRINYA DI MATA ORANG LAIN. IA SERING DIJAUHI ORANG.

“ Kalau ingin bahagia, kamu harus selalu berpikir dan bertindak yang menyenangkan. Untuk itu kamu perlu mengenakan topeng ini,” ujar seorang teman menasehatinya. Jangan bayangkan itu sebuah topeng tradisonal dari kayu seperti dalam panggung pertunjukan. Topeng itu terbuat dari bahan seperti kulit manusi, sehingga orang lain tidak menyadari. Itu lo seperti penyamaran di film-film Hollywood. Yang jelas, persis wajah Djoko, hanya dengan raut muka yang lebih ramah dan lembut.

Benarlah. Sejak mengenakan topeng, hidup Djoko terasa lebih menyenangkan. Orang- orang yang bertemu dengannya selalu menunjukkan sikap ramah dan gembira. Padahal sebelumnya, jarang sekali orang tersenyum pada Djoko, biasanya mereka diam atau takut. Seiring berjalan waktu, ia jadi mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Ia bisa menghargai orang lain dan menyenangkan mereka. Namun demikian lama-kelamaan batinnya tersiksa, “ Meski topeng ini sudah begitu banyak memperbaharui kehidupanku, tapi ini palsu. Ini bukan wajah asliku,” begitu pikirnya. Lantas ia memutuskan mengelupas topeng dan memperlihatkan jati diri sebenarnya, meski resikonya bisa ditinggalkan para sahabat.

Betapa terperanjatnya Djoko di depan cermin ketika mendapati kerutan-kerutan di alisnya sudah halus. Guratan cemberut di wajahnya sebelum memakai topeng itu, hilang. Sementara lengkungan bibirnya menciptakan senyuman yang manis. Wajahnya kini persis seperti topeng yang baru saja dikelupas. “ Luar biasa! Aku terlahir jadi orang baru.” Kabar gembira itu ia sampaikan kepada sang teman.

“Sesungguhnya inilah wajah aslimu. Topeng itu hanya untuk mengingatkan kamu kembali,” begitu komentar teman singkatnya. Petuah klasik di atas rasanya masih selalu faktual meretas zaman. Tak keliru bila sastrawan sohor Inggris pemenang Nobel Kesusasteraan 1923, William Butler Yeats, menginyakan. “ Menurutku, kebahagian itu tergantung pada kekuatan kita dalam mengenakan topeng diri yang berbeda. Kegembiraan, kreativitas hidup adalah proses kelahiran kembali diri kita menjadi orang lain, yang tidak memiliki memori, yang tercipta dalam sesaat dan terus-menerus diperbaharui.” Apakah kita perlu minta bantuan topeng kita yang asli?

Sumber : INTISARI

MELUDAH KE LANGIT

Karena datang terlalu pagi, ruang tunggu bandara masih agak sepi. Untuk mengisi waktu Maya mampir ke toko, membeli sebungkus biskuit marie dan sebuah buku. Tak berapa lama duduk membaca, calon penumpang berdatangan masuk. ”Maaf, boleh saya duduk di situ?” seorang pria berT-shirt putih mendekat sambil menunjuk tas Maya yang terletak di kursi samping. ”Silahkan,” jawab Maya sambil menggeser tas ke tubuhnya.

Begitu duduk pria itu mengambil sesuatu di sela kursi mereka. Apakah ini milik Anda? ” Ia memberi sisir warna merah kepada Maya. ”Terimakasih, mungkin jatuh dari tas saya.” Beberapa saat kemudian si pria mengambil sebuah biskuit dari tas. Maya sedikti terkejut. Pria itu tersenyum padanya. Sejenak Maya menatap mata si pria, seakan bertanya berani benar kau. Kemudian merogoh tas dan mengambil biskuit juga, lantas kembali membaca bukunya. Mudah-mudahan ini akan ”mengakhiri” pencurian biskuit yang dilakukan orang ini, pikir Maya.

Begitu biskuit di tangan habis, pria tersebut mengambil lagi. Maya mulai jengah melihat semua ini. Memang perkara sepele. Cuma biskuit yang nilainya tak seberapa. Namun ini amat menjengkelkan. Cewek ini nyaris tak tahan untuk memaki atau setidaknya menegur pria tersebut. Kemudian pria tersebut kembali merogoh tas, mengeluarkan bungkus roti lalu menyerahkan kepada Maya, ”Silahkan lo, masih sisa satu.” Perbincangan mereka terhenti oleh suara loudspeaker ruang tunggu yang meminta mereka untuk masuk pesawat. Maya segera membereskan bawaannya, mengambil tas lalu menuju boarding gate. Betapa terkejutnya ketika memasukkan buku ke dalam tas, ia melihat bungkusan biskuit marienya masih utuh belum dibuka sama sekali. Nah lo. Jadi biskuit yang ia makan tadi milik siapa? Raut muka cewek cantik ini memerah. Ia teringat niatnya untuk memaki-maki, sekaligus menyadari betapa baiknya orang itu. Pelajaran hidup senantiasa bertebaran dimana-mana, kapan saja, dan dari siapa saja. Itulah yang dialami oleh Maya. Benar ucapan Sang Bijak Budha Gautama. Apapun alasannya, menyalahkan orang baik itu laksana meludah sambil menengadah ke langit. Ludah kita tidak akan mengotori langit, tapi berbalik mengotori diri kita sendiri.

Sumber :INTISARI

SENDOK KEBAHAGIAAN

Di tangan Paulo Coelho, penulis dan pemikir kelahiran Rio de Janeiro, sendok makan pun bisa digunakan untuk memberi pencerahan. Dalam tulisannya yang berjudul “All the Marvels of The World”, dikisahkan pengemberaan seorang pemuda dalam mencari arti kebahagaiaan. Dalam pencariannya ia menemui seorang petapa di sebuah puri kuno di puncak bukit. Bertanyalah ia kepada sang petapa, apa arti kebahagiaan.
Sebelum menjawab pertanyaan, sang petapa lalu memberinya sebuah sendok makan beriri beberapa tetes minyak. “Bawalah ini sambil berjalan-jalan. Awas, jangan sampai minyaknya tumpah”. Si pemuda menuruti perintah. Ia keluar masuk kompleks puri abad pertengahan yang indah tersebut. Namun lantaran konsentrasinya terpaku pada sendok berisi minyak tersebut, ia tidak menikmati apa yang dilihat. Beberapa jam kemudian sang petapa bertanya, “Apakah kamu sudah masuk ruang perpustakaanku? Disana mestinya kau lihat sebuah relief dinding berisi cerita menarik. Kau menyukainya?”

Pemuda tersebut mengakui ia tak sempat melihat benda yang dimaksud. ”Kalau begitu kau harus melihatnya lagi, Cobahalah nikmati pemandangan indah di puri ini”. Kali ini si pemuda betul-betul menikmati semua hal yang dilihatnya. Beberapa jam kemudian ia melaporkan beberapa hal menarik pada sang petapa. ”Baiklah, tapi apa yang terjadi pada sendok itu? Mengapa kosong? Kau tumpahkan minyaknya ya?”. Sang pemuda kaget, tak bisa menyembunyikan rasa malunya.

Dengan bijak sang petapa lalu mengelus-elus pundak si pemuda seaya berkata, ”Kamu masih mau mengetahui rahasia arti kebahagiaan?”
”Ya, tentu saja.”
”Sesungguhnya kau telah menjawab sendiri.” ujar sang petapa. ”Kebahagaiaan adalah kemampuan untuk menikmati dan menghargai segala keindahan yang kau temui di dunia, tanpa melupakan sesuatu yang paling dekat denganmu.” 

Sumber : INTISARI

TANGAN DALAM BOTOL

Menarik untuk merenungkan kembali apa yang disampaikan Erich Butterworth dalam bukunya The Universe is calling (HarperCollins Publishers, 1994). Salah satu ilustrasinya, metode unik yang dipakai orang Amerika Serikat (AS) dalam menangkap monyet di hutan Afrika untuk dikirim ke berbagai kebun binatang di AS.
Dengan cara amat manusiawi para pemburu menggunakan sebuah botol besar dengan leher yang sempit sebagai perangkap. Umpannya berupa kacang-kacangan dan buah-buahan. Umpan itu ditaruh didalam botol. Tujuannya agar monyet dapat ditangkap hidup-hidup tanpa terluka. Pagi hari botol-botol iu ditaruh di hutan, lalu esoknya para pemburu datang lagi untuk mengecek monyet yang terperangkap.

Bagaimana kaum monyet itu diperdaya? Begini, karena tertarik oleh warna dan aroma buah yang menyengat, para monyet mendatangi botol-botol itu. Mereka lalu mencoba meraih kacanga atau buah itu dengan memasukkan tangannya kedalam botol. Kalau sudah begini mereka tak akan bisa menarik tangannya keluar dari botol selama tangannya menggenggam kacang atau buah. Mereka juga tak mampu membawa lari botol itu karena berat.
Barangkali kita akan menertawakan betapa tololnya monyet-monyet itu. Padahal tanpa sadar kita sering berperilaku seperti mereka, memegang erat-erat problem yang kita hadapi. Ibaratnya menenteng-nenteng ”botol problem” kemana-mana. Artinya kita membiarkan diri terperangkap dalam botol problem itu. Mengasihani diri, seolah merasa sebagai manusia yang paling menderita, paling sengsara, paling miskin, dan sebagainya. Ke sana ke mari pasang muka memelas, minta belas kasihan orang lain, berdoa siang malam memohon pertolongan-Nya.
Padahal kita tahu Tuhan tak akan memberi beban yang tak bisa kita tanggung. Dari sini bisa ditarik kesimpulan atas pesan yang disampaikan Blueworth. Salah satunya Praying is listening. Bukan melulu minta agar sesuatu menjadi baik, tapi melihat sesuatu dengan sebaik-baiknya. Mengamati sesuatu dari tempat yang tinggi, agar mampu melihat ”lebih dari sekedar yang tampak”. Dengan begitu kita akan bisa menemukan jalan keluar. Tidak perlu harus terperangkap dengan tangan dalam botol. Dengan begitu kita bisa bersyukur.

Sumber : INTISARI

KANTONG MAAF KENTANG

Peribahasa Inggris kuno mengatakan, dalam setiap maaf itu selalu terdapat cinta. Ada dua pengertian penting dalam kalimat di atas, yakni maaf dan cinta. Dua kata yang bisa dengan gampang diucapkan dan dijalankan. Tapi bisa juga sedemikian sulit terlontar dan enggan dilakukan. Buktinya banyak perkawinan yang dirajut dari kata cinta jadi berantakan lantaran masing-masing tak lagi memiliki kata maaf. Tak sedikit persahabatan berubah menjadi permusuhan karena kedua pihak gagal memakai dua kata tersebut.

Seorang Motivator asal Amerika Serikat yang terkenal pada tahun 1960-an Rebecca Beard, dalam bukunya Everyman’s search bilang, ketika kita mengatakan mampu mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri, semestinya kita juga harus berani meminta maaf atas perbuatan yang tidak kita kehendaki dan perkataan yang seharusnya tidak diucapkan pada orang lain.
Penjelasan pernyataan diatas bisa diberi ilustrasi sebagai berikut. Seorang guru meminta murid-muridnya membawa sebuah kantong plastik dan karung berisi kentang ke sekolah. Masing-masing murid disuruh mengingat nama orang-orang yang tidak bisa dimaafkan, lantaran pernah menyakiti hati dan berbuat salah dalam hidup mereka. Setiap nama dituliskan pada sebutir kentang. Lalu kentang tersebut dimasukkan dalam kantongan plastik. Ada yang kantongnya penuh, ada yang setengah, dan ada pula yang hanya berisi sedikit kentang. Mulai hari itu mereka diwajibkan selalu membawa kantong kentang tersebut kemanapun pergi. Kalau ke sekolah kantong itu ditaruh di meja, ketika pulang diletakkan di dalam mobil, di kala tidur ditaruh disisi tempat tidur. Tugas “aneh” itu mereka jalani selama sepuluh hari.

Keletihan fisik membawa kantong kentang selama itu secara harafiah harus kita bayar karena mempertahankan rasa marah, dendam, dan sikap negatif pada sesama. Terlalu sering kita enggan memberi maaf kepada orang lain. Ngapain harus memaafkan? Kesenangan mereka dong! Hati kecil kita tak rela, memberi hadiah maaf pada orang lain. Padahal memberi atau meminta maaf itu sesungguhnya juga merupakan hadiah bagi kita sendiri. Lanataran setelah itu kita akan terbebas dari rasa letih atau bahkan sakit akibat menenteng-nenteng ”kantong kentang”. Mulai hari ini mari keluarkan kentang maaf dari kantong kita.

Sumber : INTISARI