Karena datang terlalu pagi, ruang tunggu bandara masih agak sepi. Untuk mengisi waktu Maya mampir ke toko, membeli sebungkus biskuit marie dan sebuah buku. Tak berapa lama duduk membaca, calon penumpang berdatangan masuk. ”Maaf, boleh saya duduk di situ?” seorang pria berT-shirt putih mendekat sambil menunjuk tas Maya yang terletak di kursi samping. ”Silahkan,” jawab Maya sambil menggeser tas ke tubuhnya.
Begitu duduk pria itu mengambil sesuatu di sela kursi mereka. Apakah ini milik Anda? ” Ia memberi sisir warna merah kepada Maya. ”Terimakasih, mungkin jatuh dari tas saya.” Beberapa saat kemudian si pria mengambil sebuah biskuit dari tas. Maya sedikti terkejut. Pria itu tersenyum padanya. Sejenak Maya menatap mata si pria, seakan bertanya berani benar kau. Kemudian merogoh tas dan mengambil biskuit juga, lantas kembali membaca bukunya. Mudah-mudahan ini akan ”mengakhiri” pencurian biskuit yang dilakukan orang ini, pikir Maya.
Begitu biskuit di tangan habis, pria tersebut mengambil lagi. Maya mulai jengah melihat semua ini. Memang perkara sepele. Cuma biskuit yang nilainya tak seberapa. Namun ini amat menjengkelkan. Cewek ini nyaris tak tahan untuk memaki atau setidaknya menegur pria tersebut. Kemudian pria tersebut kembali merogoh tas, mengeluarkan bungkus roti lalu menyerahkan kepada Maya, ”Silahkan lo, masih sisa satu.” Perbincangan mereka terhenti oleh suara loudspeaker ruang tunggu yang meminta mereka untuk masuk pesawat. Maya segera membereskan bawaannya, mengambil tas lalu menuju boarding gate. Betapa terkejutnya ketika memasukkan buku ke dalam tas, ia melihat bungkusan biskuit marienya masih utuh belum dibuka sama sekali. Nah lo. Jadi biskuit yang ia makan tadi milik siapa? Raut muka cewek cantik ini memerah. Ia teringat niatnya untuk memaki-maki, sekaligus menyadari betapa baiknya orang itu. Pelajaran hidup senantiasa bertebaran dimana-mana, kapan saja, dan dari siapa saja. Itulah yang dialami oleh Maya. Benar ucapan Sang Bijak Budha Gautama. Apapun alasannya, menyalahkan orang baik itu laksana meludah sambil menengadah ke langit. Ludah kita tidak akan mengotori langit, tapi berbalik mengotori diri kita sendiri.
Sumber :INTISARI
Begitu duduk pria itu mengambil sesuatu di sela kursi mereka. Apakah ini milik Anda? ” Ia memberi sisir warna merah kepada Maya. ”Terimakasih, mungkin jatuh dari tas saya.” Beberapa saat kemudian si pria mengambil sebuah biskuit dari tas. Maya sedikti terkejut. Pria itu tersenyum padanya. Sejenak Maya menatap mata si pria, seakan bertanya berani benar kau. Kemudian merogoh tas dan mengambil biskuit juga, lantas kembali membaca bukunya. Mudah-mudahan ini akan ”mengakhiri” pencurian biskuit yang dilakukan orang ini, pikir Maya.
Begitu biskuit di tangan habis, pria tersebut mengambil lagi. Maya mulai jengah melihat semua ini. Memang perkara sepele. Cuma biskuit yang nilainya tak seberapa. Namun ini amat menjengkelkan. Cewek ini nyaris tak tahan untuk memaki atau setidaknya menegur pria tersebut. Kemudian pria tersebut kembali merogoh tas, mengeluarkan bungkus roti lalu menyerahkan kepada Maya, ”Silahkan lo, masih sisa satu.” Perbincangan mereka terhenti oleh suara loudspeaker ruang tunggu yang meminta mereka untuk masuk pesawat. Maya segera membereskan bawaannya, mengambil tas lalu menuju boarding gate. Betapa terkejutnya ketika memasukkan buku ke dalam tas, ia melihat bungkusan biskuit marienya masih utuh belum dibuka sama sekali. Nah lo. Jadi biskuit yang ia makan tadi milik siapa? Raut muka cewek cantik ini memerah. Ia teringat niatnya untuk memaki-maki, sekaligus menyadari betapa baiknya orang itu. Pelajaran hidup senantiasa bertebaran dimana-mana, kapan saja, dan dari siapa saja. Itulah yang dialami oleh Maya. Benar ucapan Sang Bijak Budha Gautama. Apapun alasannya, menyalahkan orang baik itu laksana meludah sambil menengadah ke langit. Ludah kita tidak akan mengotori langit, tapi berbalik mengotori diri kita sendiri.
Sumber :INTISARI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar