Selasa, 27 Juli 2010

TANGAN DALAM BOTOL

Menarik untuk merenungkan kembali apa yang disampaikan Erich Butterworth dalam bukunya The Universe is calling (HarperCollins Publishers, 1994). Salah satu ilustrasinya, metode unik yang dipakai orang Amerika Serikat (AS) dalam menangkap monyet di hutan Afrika untuk dikirim ke berbagai kebun binatang di AS.
Dengan cara amat manusiawi para pemburu menggunakan sebuah botol besar dengan leher yang sempit sebagai perangkap. Umpannya berupa kacang-kacangan dan buah-buahan. Umpan itu ditaruh didalam botol. Tujuannya agar monyet dapat ditangkap hidup-hidup tanpa terluka. Pagi hari botol-botol iu ditaruh di hutan, lalu esoknya para pemburu datang lagi untuk mengecek monyet yang terperangkap.

Bagaimana kaum monyet itu diperdaya? Begini, karena tertarik oleh warna dan aroma buah yang menyengat, para monyet mendatangi botol-botol itu. Mereka lalu mencoba meraih kacanga atau buah itu dengan memasukkan tangannya kedalam botol. Kalau sudah begini mereka tak akan bisa menarik tangannya keluar dari botol selama tangannya menggenggam kacang atau buah. Mereka juga tak mampu membawa lari botol itu karena berat.
Barangkali kita akan menertawakan betapa tololnya monyet-monyet itu. Padahal tanpa sadar kita sering berperilaku seperti mereka, memegang erat-erat problem yang kita hadapi. Ibaratnya menenteng-nenteng ”botol problem” kemana-mana. Artinya kita membiarkan diri terperangkap dalam botol problem itu. Mengasihani diri, seolah merasa sebagai manusia yang paling menderita, paling sengsara, paling miskin, dan sebagainya. Ke sana ke mari pasang muka memelas, minta belas kasihan orang lain, berdoa siang malam memohon pertolongan-Nya.
Padahal kita tahu Tuhan tak akan memberi beban yang tak bisa kita tanggung. Dari sini bisa ditarik kesimpulan atas pesan yang disampaikan Blueworth. Salah satunya Praying is listening. Bukan melulu minta agar sesuatu menjadi baik, tapi melihat sesuatu dengan sebaik-baiknya. Mengamati sesuatu dari tempat yang tinggi, agar mampu melihat ”lebih dari sekedar yang tampak”. Dengan begitu kita akan bisa menemukan jalan keluar. Tidak perlu harus terperangkap dengan tangan dalam botol. Dengan begitu kita bisa bersyukur.

Sumber : INTISARI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar