Rabu, 04 Agustus 2010

ASAL BUKAN SAYA

Guyon ini kerap tercetus. Ketika bau kentut merebak, orang inggris yang kebetulan membuang-nya mengaku dengan bilang, pardon me. Tapi kalau kebetulan orang Australia yang melakukannya, ia akan berkata 'Forgive me'. Sedangkan orang Amerika, 'Excuse me'. Tapi, apa kata orang Indonesia?? 'Not me'. Pasti ada keprihatinan yang dalam sehingga kita bergita sinis kepada bangsa sendiri.

Ya, barangkali.
Lalu lintas jalan raya adalah wajah keprihatinan itu. Rangkaian sepeda motor bagai tak putus, mempersulit mobil yang akan membelok bahkan ketika lampu sein telah lama berkedip memberi isyarat. Para pengendara itu seolah bilang, 'Beloknya nanti saja, setelah saya lewat.' 'Biar orang lain yang memberi jalan, bukan saya.'

Herannya. Itu tak cuma terjadi di Jakarta. Iringan sepeda dan becak di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tak juga memberi kesempatan ketika ada sesama pengguna jalan ingin memotong . mereka tetap saja santai menggenjot, pelan, tapi tidak juga mengerem untuk memberi jalan. 'Biar orang lain yang mengalah, bukan saya.'

Kita tak mau mengalah. Itu bagus kalau konteksnya tepat. Tapi saat harus memberi kesempatan bagi orang lain yang (mungkin lebih) membutuhkan, semangat ogah mengalahitu jelas salah.

Kalau konteksnya adalah pemenuhan naluri egosentris, lagi-lagi jalan raya juga tak kurang menyajikan bukti. Misalnya kecelakaan karena pelanggaran rambu, atau bus penuh penumpang yang dihajar kereta api setelah menerobos palang pembatas.

Mental, 'Asal bukan saya' juga menjadi pertanda lepas tanggung jawab. Atau pemalu. Bahkan pengecut. Kalau ada apa-apa, biar orang lain aja.
Maka disetiap seminar atau rapat besar, kursi terdepan sering kosong karena orang enggan menanggung resiko kalau ada apa-apa. Asal bukan saya.

Padahal disaat lain, orang saling sodok di depan loket karcis, saling injak berebut kupon sedekah atau BLT. Di sini yang berlaku adalah, 'Biar saya duluan', tak peduli orang lain kebagian atau tidak.
Ironis ya???

Sumber : INTISARI

UJIAN DARI PERMATA HATI

Wulan dari hari biasa mendidik ketiga anak mereka dengan keras dan disiplin. Maklumlah, mereka pengusaha berhasil yang berangkat dari bawah. 'Kalau mau kamu pasti bisa,' begitu mereka sering mengajarkan. Semua fasilitas terbaikpun disediakan demi kebahagiaan dan keberhasilan anak-anak itu.

Anehnya, beberapa tahun terakhir ini ada yang mengganjal. Si pengganjal itu bukan siapa-siapa, tapi justru Titi, si bungsu permata hati, yang selama ini lembut penurut. SeluluS SMU, ia menolak melanjutkan sekolah. Katanya ia mau bekerja saja, ingin membuktikan diri. DARI ARGUMENTASI SOPAN SAMPAI PERTENGKARAN EMOSIONAL TIDAK BERHASIL MENGUBAH TEKADNYA. IA JUGA MEMAKSA MENINGGALKAN RUMAH DAN TINGGAL DI KOS. 'AKU INGIN MANDIRI,' ALASANNYA. Bantuan keuangan dari orangtua ditolaknya mentah-mentah. Padahal dengan ijazah SMU itu pekerjaan yang ia peroleh tentu amat terbatas penghasilannya.

Dengan sedih Wulan dan Hari memperhatikan kehidupan Titi yang pelan-pelan merosot dari standar keluarga mereka. Kadang-kadang, secara sembunyi-sembunyi, mereka mencari akal melepaskan Titi dari belitan utang, karena kalau ketahuan, pasti Titi memolak mentah-mentah. Untung ia masih mau dihubungi lewat telepon atau sms. Tapi kalau ditanya, Titi selalu bilang 'Aku hepi kok. Jangan kuatir Pa, Ma. Kalau sudah tak sanggup lagi, aku pasti pulang.'

Sekarang usia Titi menginjak 22 tahun, Kedua kakaKnya sudah 'jadi orang', bahkan satu sudah menikah. Sedangkan Titi masih saja jadi tenaga administrasi di sebuah perusahaan kecil. Baru-baru ini ia bilang 'Pa, Ma, aku mau merantau ke Singapura. Coba-coba jadi PRT. Gajinya lumayan. Wulan dan Hari shock berat.

Sepasang manusia sukses itu menangis sambil berpelukan frustasi. 'Titi sepertinya sama sekali tidak perduli lagi pada perasaan kami,' keluh mereka pada psikolog. Tapi si ahli jiwa cuma mengatakan, Titi sedang mencari jati diri.

Cinta mestinya tidak luntur oleh apa pun, termasuk oleh ketidakmasukakalan. Wulan dan Hari makin mengerti, jadi orangtua itu lebih-lebih adalah soal hati.

Sumber : INTISARI

DUA KENYATAAN

Tak dinyana, saya bertumbuk pandang dengannya di suatu mal di kawasan Senayan, beberapa waktu lalu. Ia mantan teman kuliah. Dulu, ia termasuk kembang fakultas. Kami lalu menepi ke sebuah outlet kopi.

"Suamimu mas ....?" kusebut nama teman bedan fakultas, pacarnya dulu. ah, ia menggeleng lemah. Tak disetujui orangtua, alasannya. Ayahnya memang perwira tinggi yang setahu kami agak angker. Lulus kuliah, ia bekerja dan bertemu jodoh teman seprofesi, saat usianya 28 tahun.

Ia hanyut dalam 25 tahun pernikahan membahagiakan, punya empat anak, yang sulung baru menjadi sarjana ekonomi. Suaminya, tiga tahun lebih tua, sangat baik hati. Santun dan selalu menuruti keinginannya. Ia berbinar ketika bercerita, “selama seperempat abad, kami tak pernah bertengkar. Ia selalu mengalah. “ Saya ikut senang. Suasana rumahnya tentu tenang dan harmonis. Tapatnya, melankolis. .

“JUSTRU INI YANG KADANG MEMBUATKU KURANG BAHAGIA.” HAH, SAYA TERCEKAT. IA MERASA, HARI-HARINYA MENGALIR DALAM KEBEKUAN. TAK ADA IRISAN EMOSI YANG MEMBUAT EMOSINYA TERCUBIT. “BEDA DENGAN MAS …..” IA MENYEBUT NAMA MANTAN PACARNYA, YANG SAYA KENAL JAGO DEBAT, AGAK NYENI, DAN SEDIKTI KASAR. .

Kadang ia “membayangkan”, seandainya dengan Mas …. Diskusi pasti akan lebih seru. Pengetahuannya yang luas akan “mencacah-cacah” dirinya. Wanita ayu itu tersenyum. Diakui, betapa sering ia “menghadirkan” si mas itu di dalam rumah, tanpa sepengetahuan siapapun. Di “kenyataan” yang lain .

Gelembung nostalgia berbuihan dari benaknya. Tiba-tiba, teleponnya berbunyi. Panggilan dari suami memecah ceritanya. Kami pun berpisah. Sambil menyusuri trotoar, saya berusaha memahami. Ia hidup dalam dua cinta, di dua “realita” yang terpisah, meski kadang berhimpitan. “Realita” nyata dan tidak nyata. Ia memutuskan tetap berpihak pada kenyataan perkawinan, tapi ia juga tak ingin menutup book of love , “buku cinta” yang pernah ditulisnya bersama kekasih, dan ia bahagia.
Ah, pasti tak banyak orang bisa seperti dia. .

SUMBER : INTISARI

BAHAGIA

Jakarta, 1963. Di jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat dibuka resto minang Lapeh Salero (mungkin yang pertama di Jakarta). Karena tinggal di kompleks tentara di sebelahnya, maka saya sering melihat selebriti masuk keluar resto itu.

Dapur resto itu sedemikian sibuk, ada yang mengulek sambal, memotong sayuran, wajan besar berkepul-kepul, dan semula awaknya bicara bahasa Minang. Tak satu kata pun saya mengerti. Juru masak menuangkan kuah rendang ke sebungkus nasi, lalu diberikan kepada dua orang anak sebaya saya, yang membayar untuk itu. Keduanya saya kenali sebagai penjaja koran di bioskop Cathay yang sekarang jadi supermarket.

Mereka berdua bergegas ke pojokan, berjongkok. Makan nasi sebungkus berdua. Menjilati jari berlumur rendang. Nikmat sekali. Saya teringat pakar psikologi humanis, Abraham Maslow, tentang puncak kebahagiaan. Apakah kedua anak itu tengah mencapai ”puncak”? Nasi kuah rendang yang dibeli dengan keringat sendiri, dengan rasa bumbu rempah menyengat lidah telah memberi mereka pengalaman kejut. Walau hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi kuah, mereka syukuri rejeki yang diperoleh hari ini, dengan cara ikhlas menyantapnya.

Sampai saat ini, setiap kali makan saya terus dibayang-bayangi sosok-sosok kecil 45 tahun lalu itu. Rasa setiap suap coba saya resapi, seperti mereka dulu. Aneh, setitik rasa bahagia memuai dalam hati. Apakah saya juga sedang mengalami ”puncak”?

Terkadang saya ingin bertemu dengan kedua anak itu lagi. Sekadar melihat, masihkah nasi kuah rendang menjadi ”puncak” bagi mereka? Mungkin, ”puncak” itu terus bergerak, mengikuti status sosial atau gaya hidup. Namun, terkadang ada hal yang bagi orang lain sepele, tapi ternyata bisa membuat seseorang merasa bahagia. Misalnya, hanya makan nasi berlauk tahu goreng plus cabe iris campur kecap dan ulekan bawang putih saja sudah cukup mengantar ia ke ”puncak”. Seperti saya.

Sumber : INTISARI

Selasa, 03 Agustus 2010

BAYANGAN SESAMA

Satu diantara segelintir ilmuwan yang mampu merajut hidupnya dalam ranah ilmu dan humanisme secara selaras, adalah Prof. Qei Ban Liang, PhD. Setidaknya dimata anak didiknya, baik dalam civitas akademika ITB Bandung, maupun para koleganya di luar negeri. Dalam Biografinya, Pelopor Bioteknologi, Begawan Kimia, dan Sosok Guru Yang Humanisme, (CDK, 2008), ilmuwan kelahiran Blitar 79 tahun lalu ini dilukiskan menarik. Pencapaiannya di bidang bioteknolohgi diakui dunia internasional, tapi sebagai pendidik ia juga dikenal amat humanis. Ia layaknya, ”Nyala Api” kasih yang mampu meluluhkan kekerasan hati siapapun dengan pendekatannya yang unik seperti diibaratkan dalam kisah berikut ini.

Suatu hari Kapak, Palu, Gergaji, dan Nayala Api mengadakan perjalanan bersama-sama. Di tengah gurun perjalanan mereka terhenti lantaran terhalang sebatang besi baja yang melintang di jalan. Berbekal kekuatan masing-masing, mereka berusaha menyingkirkan baja tersebut.

”Beres, Akan aku singkirkan,” kata Kapak. Baja tersebut lantas dihantamnya bertibu-tubi. Namun karena keras dan kuat, akhirnya mata Kapak malah tumpul. Kapak menyerah.
”Kalau begitu, biar kau saja yang urus,” giliran Gergaji unjuk gigi. Dengan gigi-giginya yang tajam, ia langsung menggergaji. Hasilnya? Sama saja. Gigi Gergaji rontok semua.
”Apa kubilang!” timpal Palu. ”Kalian tidak akan bisa melakukan hal ini. Akan kutunjukkan caranya.” Apa yang terjadi? Baru sekali ia memukul, kepalanya terpental sendiri, benjol. Sedangkan baja tetap tak berubah.
Sementara itu, sang Api yang sedari tadi diam saja mendengarkan semua pertengkaran teman-temannya kini angkat bicara. ”Boleh aku mencoba membantu kalian?” Tanpa menunggu lagi ia segera melingkarkan diri dan memeluk dengan lembut si baja penghalang tersebut. Ia mendekap erat-erat baja tersebut tanpa melepaskan diri. Akhirnya baja yang keras itupun meleleh dan cair.

Ada banyak hati yang cukup keras untuk melawan kemurkaan dan kemarahan demi harga diri tinggi. Tapi jarang ada hati yang tahan melawan nyala api cinta kasih yang hangat. Nyala api itulah yang menjadi pegangan Prof. Oei dalam kehidupan sehari-hari. Tak berbeda apa yang dikatakan Carl Gustav Jung, ahli psikoanalisis ternama dari Swiss. Where love rules, there is no will to power, and where power predominates, there is love lacking. The one is the shadow of the other.

Sumber : INTISARI

IKHLAS

Suatu tengah malam, seorang teman lama mengirimkan pesan pendek lewat ponse, 'Sore tadi rumah saya terbakar.' Saya kaget. Ia seorang yang ulet bekerja, pandai membawa diri, tak suka menyakiti hati orang lain, ramah pada siapapun. Ia sisihkan gajinya bulan demi bulan, sampai akhirnya mampu mencicil rumah tipe 36 di kawasan Tangerang. Bersama istri dan ketiga anaknya, ia isi rumah itu dengan kehangatan, kebersahajaan, dan kebahagiaan.

Kini rumah itu telah musnah atapnya. Tetangga sebelah teledor, hingga terjadi hubungan pendek arus listrik. Kebakaran itu melalap separuh rumah, sebelum menyambar rumah teman saya tadi. Terpukul, tentu. Wajahnya kuyu, tubuhnya lemas. Habis sudah jerih payahnya selama ini. Sepertiga gajinya untuk mencicil, sepertiga lagi untuk sekolah anak, dan sisanya untuk makan dan transport. Dari mana lagi uang untuk memperbaiki rumah?

Ditambah ada tetangga bermulut jahat, mengumbar kecurigaan : bukan tak mungkin sumber api berasal dari rumah teman saya. Ia marah, hampir meledak. Kuduknya tegang. Saya mencoba menenangkan sekenanya, 'Ini cobaan Tuhan. Tabah, sabar, tawakal.' Matanya sedikit menyala.

Esok lusanya saya bertandang lagi. Syukurlah, wajahnya lebih tenang. Kami mengobrol sambil duduk bersila di rumah tumpangannya. Tak dinyana, kemarin teman-temannya di kantor lama menggalang dana. Bantuan finansial pun bercucuran ke rekeningnya. Apa yang membuat segala kemudahan terbuka baginya?

Cerita ia, ketika salat, SEGALA KEMARAHAN, SAKIT HATI, KEBENCIAN, BURUK SANGKA, PUTUS ASA, SEGALA PERASAAN DAN PIKIRAN NEGATIF, IA LEPASKAN. DALAM HAMPA, HATI MERONGGA, IA MERASAKAN KEKOSONGAN TANPA RUANG, TANPA TEPI. SAAT TANGAN MENENGADAH, DIRINYA SEPERTI MENGANGA. ITULAH DETIK-DETIK IA MERASA HATINYA TERAMAT RINGAN, SEHINGGA MUSIBAH TERASA ANUGERAH.

Sejurus kemudian, segala kebuntuan tersibak. Tetangga menawarinya tumpangan dan mengirimi makanan, teman-teman mulai berdatangan, rekening banknya mulai menggeliat, teman-teman berdatangan, RT/RW siap membantu sebagian biaya renovasi,, dsbnya. Malah, ia berbisik, kini uangnya memuai berlipat kali dibandingkan dengan sebelum kebakaran. Kuncinya hanya satu kata : IKHLAS.

Sumber : INTISARI

NOSTALGIA

Pukul 23.45, saat menyetel radio, saya kesasar ke gelombang sebuah radio swasta. Sebuah lagu yang populer di tahun 1970-an berkumandang. Lagu sederhana yang dibawakan satu kelompok bersaudara. Bercerita tentang hati yang sepi. Aneh, tiba-tiba saja lagu itu memindahkan pikiran saya ke masa silam.

Bermunculan sosok-sosok teman-teman saya, berseragam SMA tengah asyik melantunkan lagu yang sama di aula sekolah, saat kami mementaskan drama pendek. Itu lagu ilustrasi untuk repertoar kamar kamar lain yang ditulis oleh seorang teman yang kemudian menjadi pemimpin redaksi beberapa majalah, dan kini menjadi penulis novel dan budayawan ternama.

Pemain gitarnya kini entah kemana, seorang penyanyinya saya dengar sudah meninggal dunia, pemeran utama wanitanya menjadi dokter dan mantan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Seorang lagi bertemu saya 12 tahun berselang menjajakan ensiklopedia setelah sebelumnya menjadi pelatih aero-modelling. Seorang lagi, sedih saya mendengarnya, menderita gangguan jiwa.

BETAPA, WAKTU ITU, SELAGI USIA MASIH MUDA, KEHIDUPAN SUNGGUH SUATU MISTERI. KAMI MENJALANINYA DENGAN NALURI SEORANG PENGELANA, BERJALAN MENURUTI NASIB DENGAN PETA TAKDIR TAK TERDUGA. SEBAGIAN BISA MEMAKNAI DAN MENGISI HIDUPNYA DENGAN KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN, SEBAGIAN LAGI HARUS BERJUANG KERAS DAN MENGANGGAP HIDUP TERAMAT KEJAM, SEBAGIAN LAINNYA TENGGELAM DALAM KEHAMPAAN.

Salahkah mereka yang gagal melangkah? Kehidupan tak mengambil apapun dari kita. Seberapa banyak yang kita beri pada kehidupan, akan berbuah kebaikan dan kebajikan. Apa pun yang kita terima dan jadi siapapun kita saat ini, hidup tetap harus disyukuri, karena kita terus berkesempatan memberi.

Kenangan memberi energi baru, setidaknya dalam memandang kehidupan yang tersisa. Tunas-tunas kebijakan baru, bermekaran. Seyogianya hidup memang hanya ”numpang minum” menuju kehidupan abadi. Malam hanyut menjelang pagi. Di tepiannya saya hening membatu. Gara-gara sepotong lagu.

Sumber : INTISARI

Senin, 02 Agustus 2010

JAWABAN ATAS PERTANYAAN

Pertandingan tinggal menunggu bunyi peluit akhir yang akan ditiup wasit. Namun justru di detik-detik penghabisan itulah John Ahne Riise membuat kesalahan fatal. Sebagai pemain belakang bukannya menjauhkan bola dari daerah pertahanan, dia justru menjebol gawang sendiri, hal yang paling ditabukan dalam sepak bola. Gara-gara gol salah sasaran itulah, timnya, Liverpool gagal menaklukkan Chelsea di semifinal piala Champions.

Cerita tahun lalu itu rupanya amat membekas di benak bek kiri yang kini bermain untuk AS Roma. Di sebuah situs internet dia sempat curhat, betapa setelah kejadian itu, satu pertanyaan kerap muncul dalam benaknya, ?Hal buruk apa lagi yang akan kuhadapi besok?? Beruntung, Riise bukan pemain kacangan. Begitu muncul, pertanyaan itu langsung disikatnya dengan pernyataan tegas, juga di dalam hati: ? Saya akan hadapi hal buruk apapun yang terjadi besok.? Berkali-kali hal itu terjadi.

Kisah Riise mengingatkan saya pada ucapan Ted Menten, penulis sekaligus kreator teve show asal Amerika Serikat. ?SERING KALI JAWABAN ATAS SEBUAH PERTANYAAN, ADA PADA PERTANYAAN ITU SENDIRI. JAWABAN ATAS ?WHAT CAN YOU DO?? MISALNYA, BISA DENGAN MUDAH DITEMUKAN PADA KALIMAT SEDERHANA ?DO WHAT YOU CAN?.

Jika dari keempat kata tadi kita bisa merangkai kalimat afirmatif yang lebih tegas, mengapa harus membuat kalimat tanya yang hanya membuat hati ragu? Karena seperti disitir Ted Menten, kadang jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya sudah kita punyai, di benak maupun di hati.

Jadi, lain kali, ketika berhadapan dengan teman atau kerabat yang sedang kesusahan dan dia butuh bantuan. BARANGKALI LEBIH BIJAK JIKA KITA LANGSUNG BERKATA, ?SAYA AKAN MENCOBA MEMBANTU SEBISANYA? KETIMBANG ?ADA YANG BISA SAYA BANTU??

KADANG, KITA MEMANG TIDAK PERLU BANYAK BERMAIN DENGAN PERTANYAAN.

Sumber : INTISARI

JARI TAK KEMBALI

Selepas joging mengelilingi kompleks tempat tinggalnya, Andy mengeluarkan mobilnya yang baru dari garasi. Sebuah sedan sporty buatan Eropa yang sejak lama diidam-idamkan. Beberapa saat kemudian ia masuk rumah untuk ganti pakaian. Alangkah kagetnya ketika keluar lagi tampak Teddy anaknya yang baru berumur lima tahun, asik mencoret-coret bodi mobil itu dengan penggaris. Mobil yang mulus itupun baret-baret. Melihat itu, Andy kehilangan akal sehatnya. Tangan si kecil dipukul berkali-kali dengan penggaris yang ada.

Minggu cerah seketika berubah menjadi neraka bagi keluarga muda ini. Sang bocah menjerit-jerit kesakitan mendapat hukuman dari ayahnya. Sang mama yang lagi asik di dapur tergopoh-gopoh ke depan, sisteris melihat tangan Tedddy berlumuran darah. Sementara sang ayah terlihat bengong tak menyadari apa yang sudah terjadi.

Singkat cerita, Teddy lalu dibawa kerumah sakit. Meski dokter berusaha semaksimal mungkin mengobati jari si bocah, akhirnya gagal sehingga jari itu harus diamputasi. Setelah siuman dari operasi, Teddy heran melihat jari telunjuknya tak tampak. Wajahnya yang tanpa dosa menatap sang ayah di sisi tempat tidurnya. “Yah, maafkan Teddy ya soal mobil itu,” ujarnya lirih. “Tapi kapan ya Yah, jari Teddy tumbuh lagi?”

Menyaksikan anak yang dicintainya merintih seperti itu, hati Andy terasa diremas pilu. Digayuti perasaan bersalah, ia sampai menderita depresi berat.

Terlalu sering kita gagal menyadari perbedaan antara orang dan tindakannya. Manusia bisa salah. Namun tindakan yang kita lakukan dalam kemarahan akan menghantui hidup selamanya. AUSTIN O’MALLEY, SEORANG DOKTER AHLI KEJIWAAN AMERIKA SERIKAT YANG TERSOHOR PERNAH MENGATAKAN, “JIKALAU BERGAUL DENGAN ANAK-ANAK, JANGANLAH SAMPAI KEHILANGAN AKAL. DUDUKLAH DI LANTAI BERSAMA MEREKA.” ANAK-ANAK DILAHIRKAN TIDAK HANYA UNTUK KITA DIDIK DAN BESARKAN, MELAINKAN JUGA UNTUK MENDIDIK DAN MENGUJI KITA SEBAGAI ORANG TUA.

Mobil rusak bisa diperbaiki, tapi tulang patah dan hati yang terluka sulit disembuhkan.

Sumber : INTISARI

SEMUA ORANG MELAKUKANNYA

Kenapa engkau merusak kantor calon kepala daerah yang mengalahkanmu?
“Semua orang melakukannya,” jawab Bustami, SH.
Kenapa engkau menaikkan nilai proyek pembuatan jembatan hingga berlipat kali?
“Semua orang melakukannya,” jawab Drs. Hadu.
Kenapa engkau tidak mencegah sebelum orang melanggar rambu, melainkan menunggu di kegelapan untuk mencegat pelanggar?
“Semua orang melakukannya,” jawab Aiptu Sucatur.
Kenapa engkau bertanya tentang nilai kuitansi yang harus kau tulis kepada konsumen yang membeli materai dari tokomu?
“Semua orang melakukannya,” jawab A Siu.
Kenapa engkau tidak berhenti ketika lampu merah menyala?
“Semua orang melakukannya,” jawab Felix.
Kenapa engkau tetap membuang sampah ke selokan padahal dulu kita kebanjiran gara-gara selokan mampet?
“Semua orang melakukannya,” jawab Azas.
Kenapa engkau mengubah putaran BBM sehingga angka yang tertera bedan dengan jumlah riil liter yang keluar?
“Semua orang melakukannya,” jawab Dulmartin.
Kenapa saat shuttle cock jatuh di bidang lapanganmu, engkau sekadar menyaruknya dengan ujung raket hingga terlempar ke bidang permainan lawan?
“Semua orang melakukannya,” jawab seorang pebulutangkis senior.

Tidak. Tidak semua orang. Dulu, Rudy Hartono selalu mengambil bola, kadang dengan ujung raket juga, mengoperkannya melompati net untuk ditangkap lawan. Ia bertanggung jawab atas kesalahannya, ia memberi kesempatan lawan untuk sesiap mungkin memulai permainan. Ia memberi tontonan, bukan hasil akhir semata. Rudy memang juara paripurna.
Maka ia satu-satunya pebulutangkis di muka bumi yang delapan kali memenangi All England.

KINI, BUKAN HANYA KETELADANAN di bidang bulutangkis yang tidak kita miliki. DI BIDANG LAIN PUN KITA LANGKA PANUTAN. Yang tersaji di televisi, lebih banyak CONTOH-CONTOH TAK TERPUJI. ITULAH ALASANNYA DENGAN ENTENG KITA SELALU BERKATA, “SEMUA ORANG MELAKUKANNYA?”.

Sumber : INTISARI

PAKU PAGAR

Dengan bukunya If Life is Game, These are The Rules (Broadway, 1998), motivator andal Cherie Carter-Scott. Ph. D, memberikan pandangan spritual dasar untuk menjelaskan apa artinya menjadi manusia lewat 10 kaidah kehidupan.

Menurut Cherie, sejak “memperoleh” tubuhnya, manusia mulai memasuki sekolah kehidupan. Yang dihadapi setiap hari tak lain adalah “pelajaran” demi “pelajaran”. Setiap pelajaran selalu diulang sampai kemudian dikuasai. Tak ada kata salah benar, yang ada hanya pelajaran. Proses belajar itu tak ada akhirnya. Orang lain adalah cermin bagi kita. Seperti apakah hidup kita nanti amat tergantung pada diri sendiri.

Anto memiliki tabiat yang kurang baik. Gampang marah, memaki, atau ngomel. Suatu hari ayahnya memberi sekantung paku seraya berpesan, setiap kali marah atau ngomel, ia harus menancapkan sebuah paku pada kayu pagar belakang rumah.

Hari pertama, Anto menancapkan 27 paku. Hari demi hari berikutnya ia mampu mengurangi sejumlah paku yang mesti ditancapkan. Lama-lama ia sadar, ternyata lebih mudah mengendalikan emosinya daripada harus menancapkan paku. Ia melaporkan hal itu pada sang ayah. Setelah itu ayahnya menyarankan, mulai sekarang Anto diharuskan mencabut kembali satu paku setiap kali ia berhasil mengendalikan emosinya. Pada akhirnya anak muda itu berhasil mencopot semua paku yang tertancap pada kayu tersebut.

Sang ayah kemudian menggandeng Anto melihat pagar kayu. “Kau telah melakukan sesuatu yang baik anakku. Namun, lihatlah kayu yang besar ini sekarang berlubang-lubang, tidak mulus lagi. Inilah cermin hidup. Setiap kemarahan, kegusaran akan menimbulkan bekas luka di hati orang. Persis seperti bekas lubang-lubang paku pada kyu ini. Betapapun kita berkali-kali meminta maaf, luka itu masih ada”.

Dalam bukunya, Cherie Carter-Scott menulis, ‘…setiap kemarahan akan membuatmu menjadi lebih kecil, sementara memaafkan akan mendorongmu untuk berkembang jauh melebihi ukuranmu”.

Sumber : INTISARI

AIR MATA & LILIN

Thomas Merton (53) adalah seorang rahib biara trapis di Kentucky, AS. Ia dikenal sebagai pengarang spiritual, penyair, pekerja sosial yang berpengaruh serta pendukung dialog antar- agama di dunia. Sayang, karirnya terhenti di usia paruh baya ketika Desember 1968 sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Kehendak Allah. Itulah yang sering tak bisa dimengerti manusia. Persis seperti yang pernah diucapkannya ketika masih hidup ….of all the things and all the happenings that proclaim God’s will to the world, only very few are capable of being interpreted by men. And of this few, fewer stil find a capable interpreter..

Pengalaman Anton menunjukkan hal yang sama. Seperti orangtua yang pada umumnya amat mencintai anak, Anton begitu menderita ketika Susan, putri semata wayangnya terserang Leukimia. Segala macam upaya media maupun alternatif telah dilakukan. Toh, sang buah hati tak tertolong. Allah menghendaki bocah cantik ini kembali ke pangkuanNya. Tinggallah Anton dan istri tersedu sedih. Berbulan-bulan keluarga ini dilanda kepedihan. Tawa dan tangisan Susan yang dulu meramaikan suasana, tak terdengar lagi.

Berbeda dengans ang istri yang beberapa tahun kemudian bisa menerima kenyataan, tak demikian halnya Anton. Ia seakan “menggugat” Sang Pencipta atas kenyataan yang dihadapi. Ia menjadi sangat pendiam. Dan tertutup. Tak mau lagi bergaul dengan teman dan tetangga. Setiap hari hanya mengurung diri di rumah ogah bersosialisasi dengan masyarakat. Selain tak banyak omong, Anton sekarang mudah marah dan tersinggung.

Suatu malam Anton bermimpi, seakan berada di surga. Ia menyaksikan parade malaikat kecil berjajar dalam barisan di kanan dan kiri sebuah gapura berbentuk mahkota yang amat besar. Masing-masing malaikat berbaju putih tersebut memegang sebuah lilin. Namun diantara deretan lilin yang bersinar itu ada sebuah lilin yang tidak menyala. Betapa terkejutnya ketika melihat dari dekat ternyata malaikat kecil pemegang lilin yang tidak menyala itu adalah Susan anaknya. Segera ia menghambur menggendong Susan. “Sayang, mengapa lilinmu tidak menyala nak?” Yang ditanya menjawab lirih, “Papa, sebenarnya mereka berkali-kali menyalakan lilinku. Tapi air mata Papa selalu menyiram lilin ini hingga padam.”

Tergagap Anton bangun dari tidurnya. Mimpi itu segera mengubah dirinya. Sungguh. Ketika menuturkan kisah hidupnya beberapa hari lalu, Anton sudah kembali seperti saat saya kenal sebelumnya. Seorang pekerja yang periang, ramah kepada siapapun dan suka menolong. Ia sadar tak mau lagi menghamburkan air mata sia-sia yang hanya akan memadamkan lilin buah hatinya.

Sumber : INTISARI