Rabu, 12 Mei 2021

MYGBIT MINING

 

MYGBIT MINING adalah salah satu penyedia kekuatan hash terkemuka di dunia, menawarkan kapasitas penambangan cryptocurrency hanya menggunakan smartphone saja..

Untuk join gratis guys mining bisa langsung jalan setelah kita daftar...
 
 
buruan bergabung guys....!!


 

 


 

Rabu, 04 Agustus 2010

ASAL BUKAN SAYA

Guyon ini kerap tercetus. Ketika bau kentut merebak, orang inggris yang kebetulan membuang-nya mengaku dengan bilang, pardon me. Tapi kalau kebetulan orang Australia yang melakukannya, ia akan berkata 'Forgive me'. Sedangkan orang Amerika, 'Excuse me'. Tapi, apa kata orang Indonesia?? 'Not me'. Pasti ada keprihatinan yang dalam sehingga kita bergita sinis kepada bangsa sendiri.

Ya, barangkali.
Lalu lintas jalan raya adalah wajah keprihatinan itu. Rangkaian sepeda motor bagai tak putus, mempersulit mobil yang akan membelok bahkan ketika lampu sein telah lama berkedip memberi isyarat. Para pengendara itu seolah bilang, 'Beloknya nanti saja, setelah saya lewat.' 'Biar orang lain yang memberi jalan, bukan saya.'

Herannya. Itu tak cuma terjadi di Jakarta. Iringan sepeda dan becak di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tak juga memberi kesempatan ketika ada sesama pengguna jalan ingin memotong . mereka tetap saja santai menggenjot, pelan, tapi tidak juga mengerem untuk memberi jalan. 'Biar orang lain yang mengalah, bukan saya.'

Kita tak mau mengalah. Itu bagus kalau konteksnya tepat. Tapi saat harus memberi kesempatan bagi orang lain yang (mungkin lebih) membutuhkan, semangat ogah mengalahitu jelas salah.

Kalau konteksnya adalah pemenuhan naluri egosentris, lagi-lagi jalan raya juga tak kurang menyajikan bukti. Misalnya kecelakaan karena pelanggaran rambu, atau bus penuh penumpang yang dihajar kereta api setelah menerobos palang pembatas.

Mental, 'Asal bukan saya' juga menjadi pertanda lepas tanggung jawab. Atau pemalu. Bahkan pengecut. Kalau ada apa-apa, biar orang lain aja.
Maka disetiap seminar atau rapat besar, kursi terdepan sering kosong karena orang enggan menanggung resiko kalau ada apa-apa. Asal bukan saya.

Padahal disaat lain, orang saling sodok di depan loket karcis, saling injak berebut kupon sedekah atau BLT. Di sini yang berlaku adalah, 'Biar saya duluan', tak peduli orang lain kebagian atau tidak.
Ironis ya???

Sumber : INTISARI

UJIAN DARI PERMATA HATI

Wulan dari hari biasa mendidik ketiga anak mereka dengan keras dan disiplin. Maklumlah, mereka pengusaha berhasil yang berangkat dari bawah. 'Kalau mau kamu pasti bisa,' begitu mereka sering mengajarkan. Semua fasilitas terbaikpun disediakan demi kebahagiaan dan keberhasilan anak-anak itu.

Anehnya, beberapa tahun terakhir ini ada yang mengganjal. Si pengganjal itu bukan siapa-siapa, tapi justru Titi, si bungsu permata hati, yang selama ini lembut penurut. SeluluS SMU, ia menolak melanjutkan sekolah. Katanya ia mau bekerja saja, ingin membuktikan diri. DARI ARGUMENTASI SOPAN SAMPAI PERTENGKARAN EMOSIONAL TIDAK BERHASIL MENGUBAH TEKADNYA. IA JUGA MEMAKSA MENINGGALKAN RUMAH DAN TINGGAL DI KOS. 'AKU INGIN MANDIRI,' ALASANNYA. Bantuan keuangan dari orangtua ditolaknya mentah-mentah. Padahal dengan ijazah SMU itu pekerjaan yang ia peroleh tentu amat terbatas penghasilannya.

Dengan sedih Wulan dan Hari memperhatikan kehidupan Titi yang pelan-pelan merosot dari standar keluarga mereka. Kadang-kadang, secara sembunyi-sembunyi, mereka mencari akal melepaskan Titi dari belitan utang, karena kalau ketahuan, pasti Titi memolak mentah-mentah. Untung ia masih mau dihubungi lewat telepon atau sms. Tapi kalau ditanya, Titi selalu bilang 'Aku hepi kok. Jangan kuatir Pa, Ma. Kalau sudah tak sanggup lagi, aku pasti pulang.'

Sekarang usia Titi menginjak 22 tahun, Kedua kakaKnya sudah 'jadi orang', bahkan satu sudah menikah. Sedangkan Titi masih saja jadi tenaga administrasi di sebuah perusahaan kecil. Baru-baru ini ia bilang 'Pa, Ma, aku mau merantau ke Singapura. Coba-coba jadi PRT. Gajinya lumayan. Wulan dan Hari shock berat.

Sepasang manusia sukses itu menangis sambil berpelukan frustasi. 'Titi sepertinya sama sekali tidak perduli lagi pada perasaan kami,' keluh mereka pada psikolog. Tapi si ahli jiwa cuma mengatakan, Titi sedang mencari jati diri.

Cinta mestinya tidak luntur oleh apa pun, termasuk oleh ketidakmasukakalan. Wulan dan Hari makin mengerti, jadi orangtua itu lebih-lebih adalah soal hati.

Sumber : INTISARI

DUA KENYATAAN

Tak dinyana, saya bertumbuk pandang dengannya di suatu mal di kawasan Senayan, beberapa waktu lalu. Ia mantan teman kuliah. Dulu, ia termasuk kembang fakultas. Kami lalu menepi ke sebuah outlet kopi.

"Suamimu mas ....?" kusebut nama teman bedan fakultas, pacarnya dulu. ah, ia menggeleng lemah. Tak disetujui orangtua, alasannya. Ayahnya memang perwira tinggi yang setahu kami agak angker. Lulus kuliah, ia bekerja dan bertemu jodoh teman seprofesi, saat usianya 28 tahun.

Ia hanyut dalam 25 tahun pernikahan membahagiakan, punya empat anak, yang sulung baru menjadi sarjana ekonomi. Suaminya, tiga tahun lebih tua, sangat baik hati. Santun dan selalu menuruti keinginannya. Ia berbinar ketika bercerita, “selama seperempat abad, kami tak pernah bertengkar. Ia selalu mengalah. “ Saya ikut senang. Suasana rumahnya tentu tenang dan harmonis. Tapatnya, melankolis. .

“JUSTRU INI YANG KADANG MEMBUATKU KURANG BAHAGIA.” HAH, SAYA TERCEKAT. IA MERASA, HARI-HARINYA MENGALIR DALAM KEBEKUAN. TAK ADA IRISAN EMOSI YANG MEMBUAT EMOSINYA TERCUBIT. “BEDA DENGAN MAS …..” IA MENYEBUT NAMA MANTAN PACARNYA, YANG SAYA KENAL JAGO DEBAT, AGAK NYENI, DAN SEDIKTI KASAR. .

Kadang ia “membayangkan”, seandainya dengan Mas …. Diskusi pasti akan lebih seru. Pengetahuannya yang luas akan “mencacah-cacah” dirinya. Wanita ayu itu tersenyum. Diakui, betapa sering ia “menghadirkan” si mas itu di dalam rumah, tanpa sepengetahuan siapapun. Di “kenyataan” yang lain .

Gelembung nostalgia berbuihan dari benaknya. Tiba-tiba, teleponnya berbunyi. Panggilan dari suami memecah ceritanya. Kami pun berpisah. Sambil menyusuri trotoar, saya berusaha memahami. Ia hidup dalam dua cinta, di dua “realita” yang terpisah, meski kadang berhimpitan. “Realita” nyata dan tidak nyata. Ia memutuskan tetap berpihak pada kenyataan perkawinan, tapi ia juga tak ingin menutup book of love , “buku cinta” yang pernah ditulisnya bersama kekasih, dan ia bahagia.
Ah, pasti tak banyak orang bisa seperti dia. .

SUMBER : INTISARI