Satu diantara segelintir ilmuwan yang mampu merajut hidupnya dalam ranah ilmu dan humanisme secara selaras, adalah Prof. Qei Ban Liang, PhD. Setidaknya dimata anak didiknya, baik dalam civitas akademika ITB Bandung, maupun para koleganya di luar negeri. Dalam Biografinya, Pelopor Bioteknologi, Begawan Kimia, dan Sosok Guru Yang Humanisme, (CDK, 2008), ilmuwan kelahiran Blitar 79 tahun lalu ini dilukiskan menarik. Pencapaiannya di bidang bioteknolohgi diakui dunia internasional, tapi sebagai pendidik ia juga dikenal amat humanis. Ia layaknya, ”Nyala Api” kasih yang mampu meluluhkan kekerasan hati siapapun dengan pendekatannya yang unik seperti diibaratkan dalam kisah berikut ini.
Suatu hari Kapak, Palu, Gergaji, dan Nayala Api mengadakan perjalanan bersama-sama. Di tengah gurun perjalanan mereka terhenti lantaran terhalang sebatang besi baja yang melintang di jalan. Berbekal kekuatan masing-masing, mereka berusaha menyingkirkan baja tersebut.
”Beres, Akan aku singkirkan,” kata Kapak. Baja tersebut lantas dihantamnya bertibu-tubi. Namun karena keras dan kuat, akhirnya mata Kapak malah tumpul. Kapak menyerah.
”Kalau begitu, biar kau saja yang urus,” giliran Gergaji unjuk gigi. Dengan gigi-giginya yang tajam, ia langsung menggergaji. Hasilnya? Sama saja. Gigi Gergaji rontok semua.
”Apa kubilang!” timpal Palu. ”Kalian tidak akan bisa melakukan hal ini. Akan kutunjukkan caranya.” Apa yang terjadi? Baru sekali ia memukul, kepalanya terpental sendiri, benjol. Sedangkan baja tetap tak berubah.
Sementara itu, sang Api yang sedari tadi diam saja mendengarkan semua pertengkaran teman-temannya kini angkat bicara. ”Boleh aku mencoba membantu kalian?” Tanpa menunggu lagi ia segera melingkarkan diri dan memeluk dengan lembut si baja penghalang tersebut. Ia mendekap erat-erat baja tersebut tanpa melepaskan diri. Akhirnya baja yang keras itupun meleleh dan cair.
Ada banyak hati yang cukup keras untuk melawan kemurkaan dan kemarahan demi harga diri tinggi. Tapi jarang ada hati yang tahan melawan nyala api cinta kasih yang hangat. Nyala api itulah yang menjadi pegangan Prof. Oei dalam kehidupan sehari-hari. Tak berbeda apa yang dikatakan Carl Gustav Jung, ahli psikoanalisis ternama dari Swiss. Where love rules, there is no will to power, and where power predominates, there is love lacking. The one is the shadow of the other.
Sumber : INTISARI
Suatu hari Kapak, Palu, Gergaji, dan Nayala Api mengadakan perjalanan bersama-sama. Di tengah gurun perjalanan mereka terhenti lantaran terhalang sebatang besi baja yang melintang di jalan. Berbekal kekuatan masing-masing, mereka berusaha menyingkirkan baja tersebut.
”Beres, Akan aku singkirkan,” kata Kapak. Baja tersebut lantas dihantamnya bertibu-tubi. Namun karena keras dan kuat, akhirnya mata Kapak malah tumpul. Kapak menyerah.
”Kalau begitu, biar kau saja yang urus,” giliran Gergaji unjuk gigi. Dengan gigi-giginya yang tajam, ia langsung menggergaji. Hasilnya? Sama saja. Gigi Gergaji rontok semua.
”Apa kubilang!” timpal Palu. ”Kalian tidak akan bisa melakukan hal ini. Akan kutunjukkan caranya.” Apa yang terjadi? Baru sekali ia memukul, kepalanya terpental sendiri, benjol. Sedangkan baja tetap tak berubah.
Sementara itu, sang Api yang sedari tadi diam saja mendengarkan semua pertengkaran teman-temannya kini angkat bicara. ”Boleh aku mencoba membantu kalian?” Tanpa menunggu lagi ia segera melingkarkan diri dan memeluk dengan lembut si baja penghalang tersebut. Ia mendekap erat-erat baja tersebut tanpa melepaskan diri. Akhirnya baja yang keras itupun meleleh dan cair.
Ada banyak hati yang cukup keras untuk melawan kemurkaan dan kemarahan demi harga diri tinggi. Tapi jarang ada hati yang tahan melawan nyala api cinta kasih yang hangat. Nyala api itulah yang menjadi pegangan Prof. Oei dalam kehidupan sehari-hari. Tak berbeda apa yang dikatakan Carl Gustav Jung, ahli psikoanalisis ternama dari Swiss. Where love rules, there is no will to power, and where power predominates, there is love lacking. The one is the shadow of the other.
Sumber : INTISARI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar